IMG-20221031-WA0086-ee13fa0a
Pendopo Bupati

Kembalikan Kejayaan, Pj Bupati Tanam Durian Petruk di Belakang Pendapa

69 Views

JEPARA – Penjabat Bupati Jepara Edy Supriyanta akan mengembalikan kejayaan durian Petruk Jepara. Upaya itu dilakukan dengan menanam seratus bibit durian petruk di seluruh kantor Perangkat Daerah dan lahan-lahan milik pemerintah daerah. Orang nomor satu di kota ukir itu mengawali dengan menanam pohon durian di Belakang Pendapa Kartini, Senin (31/10/2022).

 

Bibit durian Petruk ini ditanam di sebelah pohon bunga kantil peninggalan R.A Kartini. Bibit durian petruk yang ditanam ini merupakan hasil pengembangbiakan di kebun bibit Propinsi Jawa Tengah. Pengembangbiakan ini berhasil mengembangkan bibit 100 persen secara genetika asli Petruk. Selanjutnya, ini diperbanyak dan dikembangkan di Jepara.

 

“Ke depan, akan kita sebar ke kelompok tani untuk dikembangkan. Ini sekaligus mengembalikan ikon Jepara, sebagai cikal bakal durian Petruk,” kata Edy Supriyanta.

 

 yaitu durian Petruk di Kota Ukir. Durian yang sudah dikenal hingga penjuru nusantara ini mulai dihidupkan kembali di seluruh Jepara. 

 

 

Edy mengungkapkan jika sesuai dengan tema penanaman kali ini, “Petruk Balik Omah”, dirinya ingin mengembalikan kejayaan durian Petruk ini di Jepara. Nantinya, akan banyak tumbuh tanaman durian petruk sebagai ikon durian Jepara. 

 

“Sesuai dengan tema kali ini, Petruk Balik Omah. Kita akan membumikan kembali durian Petruk di Jepara,” jelas dia. 

 

Edy berharap tidak hanya durian Petruk tapi juga durian unggul lokal Jepara lainnya untuk dikembangkan. Karena selain petruk Jepara punya banyak durian lokal yang rasanya tidak kalah lezat dengan Petruk. 

 

“Jika ada wisatawan yang datang ke Jepara, harapannya ke depan mereka tidak sulit menemukan Petruk di musim buah durian,” ungkap Edy. 

 

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara Ratib Zaini mengungkapkan, saat ini sudah ada 9 varietas tanaman khas Jepara. Selain Petruk, juga ada durian Handoko, dan Tarmin. Kemudian kedondong apel, kedondong Parang (Karimunjaawa), alpukat sartam dan Parijoto.

 

 

Bang Yos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *